Pengaruh Opera Batak dalam Tari Tortor

Pengaruh Opera Batak dalam Tari Tortor Reviewed by beta on . This Is Article About Pengaruh Opera Batak dalam Tari Tortor

BALIGE, KOMPAS.com — Perkembangan tari tortor dipengaruhi nyanyian tumba (gerak tari bersifat minimalis) dalam seni opera Batak, yang banyak dipertunjukkan pada 1920 hingga tahun 1980. “Tari tortor masuk dalam identitas kebudayaan bangsa sebagai warisan budaya yang banyak berkembang dalam pengaruh nyanyian (ende) melalui tumba dan penampilan seni lakon pada opera Batak,” kata budayawan Thompson Hs [...]

Rating: 5

2019475620X310BALIGE, KOMPAS.com — Perkembangan tari tortor dipengaruhi nyanyian tumba (gerak tari bersifat minimalis) dalam seni opera Batak, yang banyak dipertunjukkan pada 1920 hingga tahun 1980.

“Tari tortor masuk dalam identitas kebudayaan bangsa sebagai warisan budaya yang banyak berkembang dalam pengaruh nyanyian (ende) melalui tumba dan penampilan seni lakon pada opera Batak,” kata budayawan Thompson Hs di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Minggu (18/11/2012).

Saat ini, tortor kreasi baru dipengaruhi rekaman musik gondang atau instrumen Barat. Representasinya telah banyak digantikan alat musik elektronik untuk mengiringi tarian tradisi tersebut.

Menurut pendiri Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Sumatera Utara itu, beberapa perubahan dalam pola dan gerak tortor telah terjadi melalui kebijakan interaksi kebudayaan dan peran perguruan tinggi, yang mungkin bisa disebut sebagai modernisasi tortor.

Sebagai tarian tradisional Batak, secara umum istilah tortor digunakan di daerah Angkola-Mandailing, Simalungun, dan Toba pada subkultur (sosio-antropologis) Batak.

“Di daerah Karo, tari tortor dikenal dengan landek dan di wilayah Pakpak, Dairi disebut tatak,” ujar Thompson.

Tortor merupakan tarian tradisi yang digunakan di wilayah subkultur Toba secara administratif, mencakup Samosir, Toba Holbung, Humbang, dan Silindung, serta ditemukan juga di sekitar lingkar luar Danau Toba.

Dikatakannya, musim tortor di daerah Batak Toba terkait dengan berbagai upacara, di antaranya pendirian huta (perkampungan) dan horja bius (konfederasi kampung dalam kaitan tanah dan pertanian).

Selain itu, terkait dengan adat (pernikahan, orang meninggal) dan penyembuhan penyakit (tortor sibaso dan tortor saem), kepemimpinan spiritual (hamalimon) serta konteks hiburan, yakni tari tumba sebagai pemicu kreasi baru dalam pertunjukan opera Batak dalam zaman transisi.

Pola dan gerak dalam tortor Toba dikenal dengan urdot, yakni gerak turun naik badan dengan bertumpu di tumit (bukan jinjit) serta lenggang badan ke kanan dan ke kiri dengan posisi tangan sejajar atau dengan gerak tertentu disebut eol.

“Tortor terikat dengan spiritual, moral adat, dan instrumen yang sudah ada serta merupakan bagian tidak terpisahkan dari gondang Batak,” kata Thompson.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono

Advertisement

No comments.

Leave a Reply